Jumat, 20 April 2018

MATA NAJWA (SIASAT BEREBUT ISTANA)

Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy menyebut sejumlah pertemuan terjadi antara Jokowi-Prabowo. Menurutnya, pertemuan itu untuk membicarakan jalan tengah untuk menurunkan suhu politik yang makin panas. Salah satu isi pertemuan koalisi pasangan Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019.
Tapi cerita ini dibantah Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono. Gerindra sudah menetapkan Prabowo Subianto sebagai capres 2019.
    
Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy menyebut sejumlah pertemuan terjadi antara Jokowi-Prabowo. Menurutnya, pertemuan itu untuk membicarakan jalan tengah untuk menurunkan suhu politik yang makin panas. Salah satu isi pertemuan koalisi pasangan Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019.
Tapi cerita ini dibantah Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono. Gerindra sudah menetapkan Prabowo Subianto sebagai capres 2019.

Prabowo Subianto akhirnya nyatakan menerima mandat partai untuk maju di Pilpres 2019. Namun akan kah "rematch" Jokowi-Prabowo ini menghasilkan koalisi yang sama seperti Pemilu 2014?
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, "PKS pasti bersama Gerindra."

Sekjen PAN Eddy Soeparno, "Sampai hari ini kami masih bersama pemerintah (Jokowi)."

Ketua Umum PPP Romahurmuziy, "Jokowi sulit dikalahkan, karena adanya pembuktian tingkat pertumbuhan ekonomi yang membaik."

Sementara pengamat politik Hanta Yudha menilai, "Pernyataan Prabowo Subianto masih dinamis." Bisa saja Prabowo tidak maju dalam Pilpres 2019.

Adu argumen terjadi di meja Mata Najwa soal kaos bertuliskan #2019GantiPresiden . Partai oposisi menganggap kaos ini bikin panik Presiden Jokowi terlihat dari respon Jokowi atas hastag yang tersebar di media sosial ini.

Tapi reaksi Jokowi ini dibela oleh Ketua DPP Golkar, Ace Hasan Syadzly. Menurutnya reaksi Jokowi terhadap #2019GantiPresiden tidak serius. Itu sekadar candaan saja.

Politisi PDI Perjuangan Adian Napitupulu nyeletuk, "Kaosnya sudah muncul, tapi orang (capres)-nya tak muncul-muncul."

Pengamat politik dari Poltracking Indonesia, Hanta Yudha menikai perang retorika jelang Pilpres sah-sah saja, termasuk kampanye #2019GantiPresiden vs #OgahGantiPresiden2019. Sebab saat ini memang waktunya untuk memperebutkan suara dari masyarakat.

Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais mengeluarkan pernyataan kontroversial tentang partai setan. Pernyataan ini yang membuatnya dilaporkan oleh Ormas Cyber Indonesia ke kepolisian karena dianggap meresahkan dan bisa memecah belah bangsa.

Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno masih mempertanyakan sumber berita. Lebih lanjut, Eddy mengatakan itu merupakan bahasa simbolik karena tak ada pihak yang dituding.

"Ini tausiyah tak ada muatan politik di dalamnya."
Selain itu, Eddy juga mengatakan Amien sangat vokal sejak era reformasi. Menurutnya, pernyataan Amien Rais ini sudah dipolitisasi dan menjadi heboh di masyarakat.

Di pihak lain, Ketua DPP Golkar, Ace Hasan Syadzily mengatakan agar tokoh sekelas Amien Rais perlu menjaga kata-kata ketika berhadapan dengan publik.

"Jangan menimbulkan pemahaman yang macam-macam. Kita harus menghindari politisasi isu SARA."

Tabloid Obor Rakyat sempat menjadi perbincangan pada Pilpres 2014 silam. Media ini dituduh menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian.

Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy mengaku pernah ditawarkan untuk menyunting informasi-informasi di media tersebut. Tapi politisi yang akrab dipanggil Romi ini menolaknya.

Menurut Romi kampanye hitam bisa saja dilakukan di Pilpres 2019 mendatang. Isu yang dimainkan antara lain soal komunisme.
Tapi dia mengingatkan agar semua kubu menjaga kontestasi ini dengan damai.

Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyuono mengatakan saat hoax soal komunisme menyebar di Pilpres 2014 Prabowo meresponnya. Kata dia, Prabowo tidak suka dan marah besar dengan penyebaran isu komunisme lewat Obor Rakyat.

"Prabowo tak suka, dia tahu dan marah besar. Dia tidak mau."
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera tidak menyangkal adanya kepercayaan masyarakat dengan isu komunisme. Kata dia, hal ini bisa ditunjukkan dalam kebijakan pemerintah.

"Tapi kami tak mau bahas itu, karena debatable."
Hal lain yang menjadi perdebatan adalah kebijakan Tenaga Kerja Asing. Kebijakan ini dianggap memudahkan tenaga kerja dari luar negeri, khususnya Cina, untuk bekerja di Indonesia.
Namun politisi PDI Perjuangan Adian Napitupulu serta merta mendebat, "Ini soal tenaga kerja asing atau tenaga kerja Cina? Jangan dipersepsikan demikian dong."

Anti-Islam
Pro-komunis
Pro-RRC

Tiga stigma yang ditudingkan pada Jokowi, menurut Ketua Umum PPP Romahurmuziy.
"Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Jokowi dinyatakan tidak merangkul kelompok 212, tapi nyatanya Jokowi sholat bersama kelompok 212 ketika mereka berdemo."

Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mendebatnya. "Kami selalu siap bila diundang ke istana."
Perang retorika dan stigma menjadi bahasan para narasumber Mata Najwa.



Jumat, 13 April 2018

MATA NAJWA (AMUK MASSA)


Aksi main hakim sendiri menjadi ironi di tengah status Indonesia sebagai negara hukum. Bahkan kasus main hakim sendiri tak hanya sekali dua kali terjadi di negeri ini. Kerap para korban amuk massa diadili ramai-ramai tanpa dikonfirmasi atau kesempatan membela diri. Sepanjang tahun 2014-2015 tercatat ada 4.660 kasus main hakim sendiri, dengan rata-rata 6 kematian per minggu.

Hukum harus ditegakkan, pelaku atau aktor intelektual harus diadili jika ingin memutus mata rantai aksi main hakim sendiri.

“Ini adalah tindakan kriminalitas, ini bukan fenomena sosial, karena kalau disebut fenomena sosial, ini akan menjadi alasan bagi banyak pihak untuk mengatakan bahwa saya bebas dari perilaku ini, karena saya juga adalah korban dari ketidakadilan, dan sebagainya.” Pengamat sosial, Devie Rahmawati.

~*~
Peristiwa amuk massa di Cikupa, Tangerang pada 11 November 2017, menjadi sebuah peristiwa pahit yang sulit dihapus dari ingatan M dan R.

R mengisahkan, sebelum peristiwa Cikupa terjadi, hubungannya dengan M telah terjalin sekitar 1,5 tahun, “saat ini kami sudah menikah, kami pacaran 1,5 tahun dan memang sudah merencanakan pernikahan.” Tutur R.

Saat peristiwa amuk massa di Cikupa, M mengaku baru tinggal di daerah tersebut selama 2 minggu. “Karena baru 2 minggu, belum kenal siapa-siapa dan belum sempat sosialisasi.

Sementara R mengaku, cukup jarang singgah ke kontrakan M. Pada Sabtu malam (11/11/2017), R datang untuk mengantarkan makanan ke kontrakan M, “Saya waktu itu membawa nasi dan telur dadar, masak sendiri dari rumah. Dan pada saat itu ada orang datang mengetuk pintu.”

Hingga pada sabtu malam M dan R digerebek warga, mereka dituduh berbuat asusila bahkan mereka dipaksa telanjang hingga video peristiwa ini viral di media sosial.

Akibat peristiwa tersebut, kondisi psikologis mereka terpukul dan harus menjalani konseling hingga saat ini. “Saya belum kembali bekerja.” ungkap R, “masih ingin tenang di rumah, belum ada aktivitas yang kami lakukan. Masih didampingi terus oleh pihak kepolisian.” M korban amuk massa.

Polisi menetapkan 6 orang tersangka, yang saat ini telah diadili dan menanti vonis pada 12 April 2018. Ironisnya, diantara 6 tersangka ini adalah ketua RT dan ketua RW setempat, yang diduga sebagai aktor intelektual dibalik peristiwa amuk massa.

Kapolresta Tangerang AKBP HM Sabilul Alif, menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan hasil penyidikan, bahwa ketua RT menggedor pintu kontrakan M, menuding M dan R telah melakukan perbuatan asusila, dan melakukan aksi main hakim sendiri.

“Motif ketua RT itu karena mau ada sanksi sosial, karena dia merasa seorang tokoh yang punya wewenang untuk memberikan sanksi.” ungkap AKBP HM Sabilul Alif.

Mengalami perlakukan kasar dan tudingan yang mempermalukan, keluarga korban M dan R menyerahkan ganjaran atas para pelaku pada hukum yang berlaku.

“Saya serahkan ke polisi dan pengadilan untuk hukum, saya mau yang setimpal saja, Kalau bisa cukup ini saja kejadian persekusi ini di Indonesia, ke depan jangan ada lagi. Negara kita kan negara hukum, semua ada aturannya.” ungkap N ayah korban R.
~*~
1 Agustus 2017 menjadi hari yang tragis bagi Muhammad Al Zahra atau yang akrab disapa Zoya. Dituduh mencuri amplifier atau pengeras suara di sebuah mushala, di kawasan Babelan, Bekasi, Jawa Barat, Zoya tewas dihakimi massa.

Siti Zubaidah, istri Zoya mengaku tak menyangka suaminya melakukan tindak pidana. Di mata Zubaidah, Zoya dikenal sebagai sosok suami yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Kematian Zoya menjadi pukulan berat bagi keluarganya.

Zubaidah dan buah hati yang kini kehilangan tulang punggung keluarga hanya bisa bertanya, kenapa massa tega menghabisi nyawa suaminya?
Ditinggal sang suami yang tewas dihakimi massa, meninggalkan kesedihan mendalam bagi Zubaidah. Ia kini harus berjuang sendiri membesarkan seorang anaknya. “Saya sulit menjelaskan kepergian suami kepada anak saya, biasanya suami saya sering salat bareng bersama anak saya, itu yang sering ditanyakan anak saya.”

Namun Zubaidah tak mau larut dalam kesedihan. Hidup terus berjalan, dan motivasi untuk membesarkan buah hatinya menguatkan Zubaidah menghadapi cobaan. Zubaidah hanya berharap, aksi main hakim sendiri di negeri ini tak lagi terulang.

“Saya berharap agar tidak ada kasus main hakim sendiri lagi sampai menghilangkan nyawa seseorang. Cukup keluarga saya saja.”

~*~
Harga sebuah rokok elektrik atau vape harus dibayar dengan nyawa.
Abi Qowi Suparto, pemuda 22 tahun, tewas akibat pendarahan otak setelah dianiaya beramai-ramai, karena dituduh mencuri vape.

Rosani Nina Sari, Ibunda Abi terpukul mengetahui kenyataan anaknya tewas dianiaya. “Saat ini saya belum bisa pulang ke rumah, aku masih belum kuat, aku masih mengingat aku punya anak satu yang masih belum tuntas, yang harusnya masih harus aku urus.”

Keluarga tidak tahu tentang kasus pencurian yang dituduhkan pada anaknya, kabar pertama diterima saat Abi telah dalam kondisi kritis.
“Pertama aku tidak tahu anakku diduga mencuri vape, malam tanggal 28 ayahnya mendapat telepon memberitahukan Abi dalam kondisi kritis.”
Mengetahui fakta bahwa Abi tewas dianiaya, keluarga menuntut keadilan dengan menempuh jalur hukum.

“Sebenarnya saya sudah mengikhlaskan, tapi 2 hari setelah acara tahlilan, datang temennya Abi menunjukan video penganiayaan Abi, keponakanku telepon ke abangnya, bilang ini tidak bisa dibiarkan, harus dilaporkan ke polisi, nanti banyak peristiwa seperti Abi lagi.” Kata Rosani, Ibu Abi, korban aksi main hakim sendiri.

Saat ini 5 pelaku penganiayaan atas Abi telah diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sementara 1 orang terduga pelaku lainnya masih buron.




Jumat, 06 April 2018

MATA NAJWA (MUSLIHAT BISNIS UMRAH)


Dalam setahun 160.000 orang menjadi korban bisnis umrah. Total uang yang ditilap dari korban mencapai lebih dari 3 triliun rupiah.
Dugaan penipuan travel Amanah Bersama Ummat Tours atau Abu Tours yang paling akhir terjadi misalnya melibatkan uang korban hingga Rp 1,8 triliun.

Salah satunya seorang tukang becak usia 64 tahun yang sangat sekali ingin pergi ke tanah suci. Ia memaksa diri menabung dari nafkah Rp 50.000 per hari selama 8 tahun. Namun semuanya kandas. Gagal umrah, uang Rp 16 juta pun melayang.

Permasalahan tak hanya dihadapi calon jemaah Abu Tours yang berjuang untuk berangkat ke tanah suci. Yang telah diberangkatkan pun mengalami beragam permasalahan. Ditelantarkan tanpa kejelasan.
Muhammad Syahban Munawir, korban Abu Tours sempat terlantar.
Sesampainya di Bandara King Abdul Azis, ia terlunta-lunta, tak ada pihak Abu Tours yang menjemput. Ia harus berkeliling di Madinah untuk mencari hotel.

Salah satu agen travel Abu Tours menyatakan penyesalannya. Sambil menitikkan air mata, katanya, "Jemaah saya mayoritas orang-orang tidak mampu, yang pasrah. Ini menjadi beban moral bagi saya."

Pernyataan ini ditanggapi tukang becak calon jemaah, korban Abu Tours, "Saya pasrah, sabar saja, karena bukan saya saja yg mengalami hal ini, yang senasib dengan saya."

Setahun berlalu, nasib para korban travel umrah First Travel masih tidak ada kepastian. Anak korban First Travel menuturkan, "Pertama kali saya membayar Rp 17 juta untuk ibu saya dan telah menunggu selama setahun, sejak Desember 2016 hingga Januari 2017.”

“Ibu saya sudah dijadwalkan diberangkatkan. Ibu saya sudah datang ke Jakarta dari kampung, tapi malah dibatalkan. Itu yg membuat sakit hati."

"Pada tanggal 2 April saya diminta tambah Rp 2,5 juta untuk bisa diberangkatkan, ternyata saat ramadan 2017, kembali batal berangkat."

"Masalahnya saya yang mengurus proses pemberangkatan untuk ibu dan keluarga saya sehingga jadi beban moral bagi saya."

"Ibu saya meninggal 24 Agustus 2017, dalam penantian, tanpa berhasil berangkat ke tanah suci."

Menteri Agama menanggapi, "Kisah para korban umrah murah ini membuat geram."

Lebih lanjut Menteri Agama menyatakan, "Sejak peristiwa First Travel, kami betul2 perketat regulasi dan pengawasan. Selama ini kami merasa baik2 saja, namun sejak 4 tahun terakhir mulai muncul masalah umrah karena meningkatnya animo jemaah umrah."

Modus perusahaan travel yang bermasalah yaitu menawarkan perjalanan umrah dengan biaya murah berkisar Rp14-15 juta, dengan kedok harga promo.

Polri mengungkap, "Ketika kita sidik kasus First travel, dana yang ada dalam rekening perusahaan sangat menyedihkan, hanya ditemukan uang Rp 1 juta."

"Jualan umrah murah jadi beban perusahaan tersebut hingga perusahaan gagal memberangkatkan. Nasib jemaah yg belum berangkat tergantung pendaftar jemaah baru,"jelas Wakil Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Panca Putra.

Sementara anggota DPR Arteria Dahlan menuturkan," Saat saya di komisi VIII, saya mendengar statemen orang Kementerian Agama yang menyalahkan jemaah karena tergiur harga murah. Ini membuat geram."
"Dalam rapat di DPR beberapa waktu lalu, saya sudah berusaha sopan, berusaha santun, tapi saya terlalu geram untuk menahan kata-kata itu," lanjut Arteria Dahlan.

Pernyataan anggota DPR ini ditanggapi Menteri Agama," Kasus ini harus kita lihat secara komprehensif, ini seperti fenomena gunung es. Umrah ini kan urusan masyarakat, namun memang masalah regulasi menjadi persoalan."

YLKI menambahkan,"Ini masalah dari hulu dan hilir. Pemberian ijin terlalu jor-joran diberikan tapi seleksinya dan kriterianya tidak jelas. Padahal ini ceruk pasar yg sangat menggiurkan, sehingga sangat mungkin ada pihak-pihak yang ingin meraup untung."

Penipuan umrah murah masih terus marak terjadi, bahkan dilakukan biro travel umrah berizin. Fakta ini memicu perdebatan antara Menteri Agama dan anggota DPR Arteria Dahlan.

"Justru karena sudah berizin, membuat korban semakin banyak karena tak menaruh kecurigaan. Jadi masalahnya ada di regulasi penerbitan izinnya. Kasih warning dong ke konsumen, blacklist travel yg menawarkan harga di bawah batas bawah, " kata Arteria Dahlan.

Dijawab Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin," Jangan hanya berargumen dan melontarkan tudingan. Regulasi itu ada, tapi kita baru tahu ada persoalan setelah ada kejadian wanprestasi. Awalnya kan dengan Rp 15 juta jemaah tetap bisa diberangkatkan. Baru belakangan diketahui merekan menggunakan skema ponzi setelah muncul persoalan. Sekarang kita sudah perketat regulasi, harga minimum ditetapkan 20jt, jadwal tunggu maksimal 3-6 bulan."

Arteria Dahlan masih mempertanyakan, "Kok kejadian di tahun 2016 baru dicabut 2017. Seperti First Travel kan sudah kita sounding sejak setahun yg lalu, tapi tidak segera ditangani."

Total ratusan ribu calon jemaah umrah gagal berangkat, dana yang mereka setor pun melayang. YLKI melihat respon pemerintah sangat lamban dalam menghadapi kasus umrah murah. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menyatakan, "Kalau sekarang memperketat regulasi, itu belum menyentuh substansi masalahnya. Itu hanya menyentuh kulit-kulitnya saja."

Sementara Menteri Agama menyatakan, "Kontrol lebih sulit, karena ternyata ada perusahaan, seperti First Travel, yang tak tergabung ke asosiasi."

Sekjen Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umrah Firman M. Nur menyatakan, "Perlu kecerdasan dari semua pihak, kita harus pastikan biro tersebut berizin, dan cek rasionalitas harga yg ditawarkan. Sistem MLM dan skema ponzi tidak boleh diterapkan di bisnis travel umrah."


Jumat, 30 Maret 2018

MATA NAJWA (GADAI NYAWA DI NEGERI ORANG)

Najwa Shihab mengangkat tentang persoalan Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di negara lain.
Selama ini memang kerap terdengar pemberitaan beberapa TKI dieksploitasi, mendapatkan siksaan, pelecehan bahkan ada pula yang mendapat hukuman mati.
Hal ersebut tampaknya masih menjadi persoalan bangsa yang tak kunjung terselesaikan.

Dan lagi, buruh migran dihukum mati di Arab Saudi. Zaini Misrin, warga Bangkalan-Madura dihukum pancung dengan banyaknya kejanggalan dan proses hukum yang tengah diajukan Indonesia.

Zaini Misrin bukanlah satu-satunya mendapat hukuman pancung,  Masih ada deretan nama buruh migran yang terancam hukuman mati. Salah satunya Tuti. Dari sang ibunda
Iti Sarniti menceritakan dukanya bekerja sebagai TKI.

"Tahun 2010, Tuti dan saya berangkat ke Arab Saudi. Kontraknya 2 tahun. 3 bulan di sana masih bisa komunikasi. Setelah itu tidak ada lagi komunikasi. Saya tidak percaya Tuti bisa membunuh. Dia anaknya pendiam."

"Katanya, Tuti membunuh majikannya yang sudah tua di Arab Saudi," cerita Iti sambil menangis di hadapan Najwa Shihab.

Iti harus bolak balik ke Jakarta selama 2 tahun untuk mencari kejelasan atas kasus Tuti di Arab Saudi. "Tahun 2012, saya berangkat ke Arab Saudi dibiayai oleh pemerintah. Saya sudah bertemu dengan Tuti di penjara. Tuti menceritakan bahwa ia dirayu untuk melakukan hubungan seksual dengan majikan laki-lakinya yang sudah tua, dan Tuti mendorong majikannya karena membela diri," papar Iti sambil menahan tangis.

Hariyanto, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia yang mendampingi Iti menambahkan, "Tuti mendapat pelecehan seksual dari 9 orang laki-laki di tengah pelariannya menuju Mekkah, kami menuntut keadilan hukum atas peristiwa yang menimpa Tuti ini."

Zaini Misrin, dihukum pancung di Arab Saudi. Keluarga kaget karena hukuman tersebut dilakukan tanpa pengumuman resmi pemerintah Arab Saudi. Kedua anak Zaini sudah hadir di panggung Mata Najwa, Saiful Toriq dan Mustofa Kurniawan.

Toriq menceritakan bagaimana Zaini memperoleh tindak kekerasan oleh para polisi di penjara, supaya mau mengaku melakukan pembunuhan majikannya. "Abah dipukul pakai kayu, dicambuk, dipaksa, disuruh mengaku. Abah tidak tahu sama sekali penyebab tewas majikannya. Abah di sana bekerja sebagai sopir."

Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care mengatakan, pemerintah baru mengetahui kasus ini pada 2008. "Saat persidangan berlangsung, Zaini tidak didampingi oleh pengacara, translatornya pun dari kepolisian yang memaksa Zaini mengakui perbuatan membunuh majikannya," ungkap Wahyu.
Vonis hukuman mati sudah dijatuhkan di pengadilan, sehingga fakta-fakta baru terkait kasus ini tidak bisa menjadi bukti baru.

Kepada Najwa Shihab, Mustofa menunjukkan foto Zaini yang diambil dari handphone yang ia sembunyikan di kasur penjara. Bahkan saat berada di penjara, Zaini juga masih mengirimkan uang untuk membiayai kehidupan anak-anak di Indonesia. 

Kekhawatiran Saiful Toriq dan Mustofa kini tertumpu pada ibu mereka setelah ayahnya tewas dihukum pancung. Sang ibu, menurut kedua anaknya, mengaku dirayu majikannya. Padahal kontrak kerja di Arab Saudi baru dijalani dua bulan dari tiga tahun yang disetujui, sehingga sang ibu pun tidak bisa pulang.

Meski sudah melalui perjuangan panjang selama 14 tahun mencari keadilan itu hanya sebatas mimpi Abah.
Abah sempat bilang “Nak kita akan kumpul di Madura” ini yang membuat saya sedih dan terpukul ternyata mimpi itu kandas dan bahkan jenazah Abah pun tak bisa pulang ke Madura.

Saya berharap kepada pemerintah semoga apa yang terjadi kepada Abah saya tidak terjadi lagi buat TKI-TKI yang lain. Semoga yang menimpa saya tidak terjadi pada anak-anak Indonesia lain, " surat Mustofa Kurniawan, putra Zaini Misrin yang dihukum pancung di Arab Saudi bagi Presiden Jokowi.
"Saya minta ke Presiden, supaya saya bisa bertemu dengan keluarga majikannya Tuti. Saya mau sujud memohon maaf agar keluarga mereka memaafkan Tuti. Tolong bantu saya. Tuti anak pertama saya. Dia tidak banyak bicara, kalau saya tidak tanya dia tidak cerita. Saya minta anak saya dibebaskan saya mohon doanya dari semua," derai air mata Iti Sarniti-ibunda Tuti, buruh migran yang divonis hukuman mati.

Adelina Sau tewas di rumah sakit setelah disiksa majikannya di Malaysia. Ibunda Adelina, Yohana Banunaek dan Juru Bicara Keluarga Adelina, Amrosius Ku, hadir di Mata Najwa melalui perjalanan jauh dari NTT. Mereka bersedia berbagi cerita duka dengan harapan tak ada lagi warga NTT yang jadi korban seperti Adelina. Adelina bekerja ke Malaysia saat ia berusia 15 tahun. Ia diajak oleh calo bernama Martinus yang kini sudah diciduk polisi.

"Setelah 1 tahun pulang dengan selamat dari Malaysia, namun hanya membawa uang Rp 3 juta. Dia juga pulang tidak punya paspor,"Juru Bicara Keluarga Adelina, Amrosius Ku.
Ibunda Adelina sempat melarang saat Adelina akan berangkat lagi bekerja di Malaysia, "Karena Adelina baru pulang dari Malaysia.

"Saat Adelina pergi, calo yang menjemput Adelina memberikan Yohana uang Rp 200.000 dengan tujuan Yohana mengizinkan Adelina pergi. Namun Yohana tidak tahu ketika akhirnya Adelina berangkat lagi.
Adelina masih di bawah umur untuk bekerja di luar negeri. Hal ini menyisakan pertanyaan, benarkah Adelina jadi korban penjualan manusia? 

Kasus meninggalnya Adelina, buruh migran asal NTT, di tangan majikan di Malaysia menguak kembali dugaan bisnis perdagangan manusia.
Keluarga sempat tak percaya saat mendapat kabar Adelina meninggal dunia di Malaysia, "Nama marga di paspor Adelina berbeda dengan marga keluarga, hingga akhirnya polisi datang ke rumah dengan membawa foto Adelina."

Keluarga sampai sekarang tidak mengetahui kesalahan Adelina. Namun, keluarga sudah mengetahui kasus Adelina masih bergulir di Malaysia dan Indonesia.
Wahyu Susilo dari Migrant Care memaparkan human trafficking marak terjadi di NTT. "Kasus Adelina termasuk human trafficking, paspor Adelina dibuat di Blitar."

Menurut Wahyu, ada sindikat human trafficking di Medan, Blitar, Atambua yang perlu diungkap.
"Birokrasi yang terlibat. Ada Kepala Disnaker Kupang yang tertangkap memalsukan dokumen," papar Wahyu.
Tudingan Migrant Care langsung dijawab oleh Dirjen Pembinaan Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Kemenaker, Maruli A. Hasoloan,
"Tata kelola di dalam negeri, kita membangun kegiatan di desa sebagai upaya mencegah kasus human trafficking."
Harapan agar pemerintah membuka lapangan pekerjaan yang banyak dan baik serta tidak ada Adelina lainnya yang menjadi korban, disampaikan keluarga Adelina di panggung Mata Najwa.

Satinah, mantan buruh migran terbebas dari hukuman pancung di Arab Saudi. Uang diyat sebanyak Rp 21 miliar menyelamatkan nyawa Satinah. Fakta pun terkuak, Satinah kerap mendapat penyiksaan di penjara.

"Alhamdulillah saya sudah lebih baik, sekarang saya pakai tongkat tidak lagi pakai kursi roda,"
"Saya tidak ada kegiatan, tangan saya sakit, hanya bersih-bersih rumah, masak masakan kesukaan,"
Satinah sudah 3 kali berangkat ke Arab Saudi. 

"Majikan saya galak. Saya sering dipukul, saya pernah dipukul pakai penggaris besi. Saya emosi dan saya pukul majikan saya, dia terkapar tidak bernapas."

Satinah kabur dari rumah majikan, namun bertemu polisi di jalan. Ia pun tertangkap dengan membawa tas majikannya yang ternyata salah ia bawa saat keluar rumah.
Polisi membawa Satinah kembali ke rumah, dan meminta Satinah untuk memeragakan cara Satinah memukul si majikan.

Satinah lalu dipenjara. Saat itu, ia tidak bisa memberi kabar ke pihak keluarga. "Saya tidak bisa komunikasi dengan keluarga. Jadi ketika KBRI berkunjung ke penjara, saya meminta tolong untuk mengirimkan surat kepada keluarga." Satinah.


Jumat, 23 Maret 2018

MATA NAJWA (DUSTA DUNIA MAYA)


Hoaks masih merajalela di dunia maya. Berita bohong menjadi candu disebarluaskan dengan tujuan tertentu.

Menurut anggota MCA ini, hampir 19.000 orang bergabung di akun Facebook MCA Grup. Postingan di grup berisikan politik, ilmu agama Islam, juga tentang menagih janji kepada Presiden Jokowi. 

"Saya bingung kenapa ada MCA-MCA lain yang keluar dari konteks, karena MCA asli hanya meluruskan apa yang salah, tidak ada politik," kata anggota MCA

Pengungkapan kelompok MCA menuai kontroversi. Ada tudingan MCA yang diungkap polisi adalah MCA palsu. Di Mata Najwa, Novel Bamukmin, Humas Persaudaraan Alumni 212 menyatakan, "MCA asli tidak akan mengaku kalau dia anggota MCA, tapi perjuangannya nyata" 

Pendapat lain diungkapkan oleh Direktur NU Online, Savic Ali, ada yang harus dijelaskan. "Ini harus diclearkan dulu, ini MCA ada yg palsu ada yang asli, nanti ada yang marah. Menurut Bang Novel di IG, FB, Twitter itu palsu semua?"

"Iya itu palsu" tegas Novel.

Lalu, yang  asli yang mana, Bang Novel tidak tahu juga yang asli?" lanjut Savic.
Perdebatan antara Savic Ali dan Novel Bamukmin masih berlanjut di Mata Najwa. 

Najwa kemudian menanyakan kepada anggota MCA yang identitasnya disembunyikan, "Apakah anda MCA asli?"
"Memang banyak yang palsu, tapi saya merasa asli, saya ikut berpartisipasi," kata anggota MCA.

"Kelompok ini punya common enemy, Ahok musuh bersama mereka. Karena merasa sama, jadi mereka ikutan. Banyak akun yang berkembang tidak senapas dengan tujuan awal MCA. Karena setelah Pilkada DKI mereka hilang," papar Direktur NU Online Savic Ali.

Novel kemudian menjelaskan beredarnya isu PKI di media sosial, "Isu PKI itu nyata." 

"Jadi Anda mengelola isu PKI?" tanya Najwa Shihab.

"Saya tangkap orangnya," jawab Novel.

"Atas kewenangan apa Anda tangkap?" tanya Najwa.

"Ditangkap diserahkan ke polisi," sanggah Novel.

Kepolisian lalu menanggapi pernyataan Novel soal isu PKI. "Saya cek dulu karena sampai saat ini saya tidak terima laporannya" kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto.

Sementara berdasarkan data, "MCA muncul pertama kali tanggal 13 Desember 2016," founder Drone Emprit, Ismail Fahmi.
"Kalau dilihat, dia (MCA) tidak mendukung Anies atau AHY. Tapi yang penting hanya menyerang Ahok," tambah Ismail.

Kepolisian mengelompokkan hoaks menjadi empat, yaitu ekonomi, ideologi, provokasi, dan lelucon.

"Polisi tidak tebang pilih, jika ada serangan kepada perseorangan akan kita tahan, yang mayoritas sekarang terjadi menyerang kepada orang-orang tertentu di Pemerintahan," jelas Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto.

"Awalnya hoaks ini munculnya dari mana? Dari motif ekonomi sebenarnya. Blogger-blogger, dari judulnya yang bombastis misalnya."
Sementara menurut Direktur NU Online, "Dalam konteks politik, kedua belah pihak pernah bikin hoaks. Yang saya temukan, MCA ini ada sentimen kebencian atas agama dan ras tertentu. Jadi orang-orang yang ga tahu apa-apa jadi terkena dampaknya."

"MCA berakhlak, yang seperti itu MCA palsu!" sergah Novel Bamukmin sambil menunjukkan artikel koran yang memuat perkataan Novel yang ia klaim menjadi viral. 

Pemaparan Fahmi dijawab Novel, "Ada kepanikan pihak lawan, dengan menangkapi mereka. Kriminalisasi ulama dan aktivis." 

Najwa kemudian meminta tanggapan Kadiv Humas Polri.
"Kalau dikatakan kriminalisasi, orangnya tidak berbuat tapi ditangkap. Tapi kalau dia melakukan itu dia dan ditangkap ya bukan kriminalisasi. Saya tegaskan tidak ada kriminalisasi ulama," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto.

Novel kemudian membawa kasus Rizieq Shihab di panggung Mata Najwa.
"Polisi tidak melakukan kriminalisasi. Polisi membutuhkan keterangan dari Rizieq Shihab. Maka beliau harus pulang ke  Indonesia," tegas Irjen Setyo Wasisto.

Isu PKI jadi salah satu sorotan dalam persebaran hoaks. Presiden Jokowi beberapa kali membahas isu PKI dalam pernyataan- pernyataannya. Di Mata Najwa, Direktur Informasi dan Komunikasi BIN Wawan Purwanto menyatakan,
"PKI sudah tidak ada, partainya tidak ada karena dilarang. Tapi kalau keturunannya itu masalah lain. Mereka berhak dipilih dan memilih."

"Apakah BIN menemukan ada kebangkitan PKI?" tanya Najwa Shihab.
"Tidak ada kebangkitan partai PKI," tegas BIN.

Dibanding hoaks saat Pilkada DKI Jakarta, Direktur NU Online Savic Ali menjelaskan pergeseran isu hoaks.

"Hoaks marak karena politik. Di Amerika hoaks marak karena politik, di Indonesia juga begitu. Ada pergeseran dari spirit 212 bela Islam, ada kasus Rizieq Shihab, ada bela ulama."

Direktur Komunikasi dan Informasi BIN Wawan Purwanto menambahkan, "Pemerintah tidak mungkin ikut menyebarkan hoaks, karena tim humas harus punya data dalam menyebarkan informasi."

Data BIN, 60% informasi yang beredar di dunia maya adalah hoaks. Inilah yang menyebabkan Masyarakat Indonesia AntiHoax menciptakan "Hoax Buster". Aplikasi ini bisa diunduh di Playstore.

"3 fungsi utama dari aplikasi di Playstore: bisa mencari berita hoaks, bisa mendeteksi situs abal-abal, dan masyarakat bisa melaporkan hoaks," jelas Septiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat AntiHoax.

Ada Patroli Hoaks atau siskamling digital yang saat ini tengah gencar dilakukan. "Silaturahmi di dunia nyata ialah yang dibutuhkan," kata Septiaji

Direktur NU Online Savic Ali menambahkan silaturahmi penting untuk membasmi hoaks, "Harus banyak bertemu, diajak ngopi, jangan cuma ribut di twitter."


Jumat, 16 Maret 2018

MATA NAJWA (SIAPA BERANI JADI PRESIDEN)

Muncul nama-nama baru dalam bursa calon presiden, mencari nama di luar Jokowi dan Prabowo. meskipun saat ini baru Jokowi yang resmi nyatakan akan berlaga lagi. Sejumlah tokoh menilai bahwa situasi politik masih cair dan memberanikan diri masuk dalam bursa calon presiden.

Salah satunya Rizal Ramli. Ia sudah tiga kali mencalonkan diri jadi Presiden. Tiga kali "nyapres" apa sebenarnya yang mendorong mantan Menko Kemaritiman ini maju?

"Saya ingin mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 10 persen!" kata Rizal Ramli. "Indonesia ini banyak tikusnya, harus dikepret."

Menurut Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, ada 26 ribu twit dalam 3 bulan terakhir yang mendukung Rizal di media sosial. Namun, Rizal harus dapat meningkatkan lagi sentimen netizen yang ia miliki.

Rizal Ramli tak menjawab blak-blakan soal modal uang yang ia siapkan untuk maju jadi Presiden, "Cek saja di KPK." Kemudian Mata Najwa menunjukkan LHKPN Rizal yang ternyata dinilai tak memadai, apalagi Rizal Ramli juga tak punya dukungan partai politik.

Mata Najwa menantang Cak Imin, "Berani ga jadi capres?"
Cak Imin menjawab, "Kalau lihat jaket merahnya, Saya berani jadi capres."Jawaban Cak Imin langsung mendapat tanggapan riuh dari penonton di studio."

"Ibarat pulau, baru ada 1 pulau yang ada. Satu-satunya capres yang sudah pasti ialah Pak Jokowi. Pak Prabowo katanya mau deklarasi, tapi sampai saat ini belum. Jadi satu pulau yang pasti ialah Pak Jokowi," kata Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB.

"Apabila rakyat dan negara memanggil, mati pun saya rela. Saat ini saya masih prajurit, tetapi apabila rakyat menghendaki setelah saya pensiun, saya siap!" tegas Mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo di meja Mata Najwa.

Mata Najwa bertanya, "Bagaimana cara mengukur rakyat menghendaki itu?"
"Ada beberapa, misalkan alat survei tapi tergantung saya putuskan nanti," ucap Gatot.
"Di media online di tahun 2017, Gatot ialah media darling, ketika menjadi Panglima TNI. Tapi setelah lengser menurun drastis dan di media sosial emosi netizen menanti langkah Pak Gatot selanjutnya, termasuk mendapat label sebagai Jenderal Religius," jelas Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia IndiKator.

"Jika Prabowo Subianto tidak maju dalam Pemilihan Presiden 2019, ada kemungkinan orang akan pilih Gatot Nurmantyo" inilah hasil survei yang disampaikan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi. "Orang-orang yang memilih Gatot, dulunya di tahun 2014 memilih Prabowo," lanjut Burhanuddin.

Safari mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo jadi sorotan. Namun Gatot membantah telah melakukan manuver politik dengan safari ke pesantren, "Satukan hati untuk Indonesia adalah slogan untuk menyatukan bangsa Indonesia, agar bangsa ini aman."
Lalu mengapa harus safari ke pesantren? 

Direktur Eksekutif Indikator Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai, "Kenapa narasinya soal Islam? Kalau lihat ke belakang kelompok Muslim kehilangan tokoh setelah Gus Dur wafat. Jenderal Gatot masuk di sini. Orang tidak bisa disalahkan jika Jenderal Gatot ingin meningkatkan elektabilitas, karena ia ada di papan tengah, di bawah Jokowi dan Prabowo."



Jumat, 09 Maret 2018

MATA NAJWA (GELANGGANG TINJU JOKOWI)



Pendaftaran calon Presiden tinggal 5 bulan lagi, suhu politik makin panas. Media sosial tak lepas, jadi arena pertempuran. Semua jadi bahan dan senjata.

Tudingan pertemuan politik di istana hingga tuduhan alat negara digunakan untuk mengamankan kepentingan politik pilpres. Pro kontra pencapaian kinerja pemerintah, Hingga penangkapan pelaku penyebar hoax yang akhir-akhir ini dituding menyerang pemerintah.

Pada acara Mata Najwa, para narasumber bertarung pendapat soal pengungkapan Muslim Cyber Army. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko tegas menjelaskan penangkapan para anggota Muslim Cyber Army merupakan ketegasan penegakan hukum atas mereka yang berusaha memecah belah bangsa melalui provokasi hoax yang berbau SARA dan politik.

Namun lain halnya dengan partai oposisi. Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria, “ Aparat telah menangkap Muslim Cyber Army tapi sejauh mana integritas aparat?” Pernyataan ini langsung menjadi perdebatan di meja Mata Najwa episode Gelanggang Tinju Jokowi. 

Kontroversi kunjungan parpol ke istana pun juga memancing kecurigaan masyarakat dimana Partai oposisi mempersoalkan pertemuan Presiden Jokowi dengan pengurus PSI, karena disebut-sebut membicarakan strategi pemenangan Pilpres 2019.

Mata Najwa membuka pembahasan soal rapor kinerja pemerintahan Jokowi. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang memegang data-data kerja pemerintah menegaskan pencapaian pemerintah dalam 3 tahun. PDI Perjuangan dan Partai Nasdem juga diberi kesempatan terlebih dulu untuk memaparkan rapor pemerintahan Jokowi. Sesudah itu ada PKS dan Gerindra langsung meng-counter. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, “Pemerintah sedang membangun istana pasir.” Penegakan pemberantasan korupsi, terkatung-katungnya kasus Novel, impor beras, pertumbuhan ekonomi, hingga dukungan bagi perdamaian Afghanistan yang dilakukan melalui lawatan Presiden ke Afghanistan.

Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Jokowi di tiga tahun pemerintahannya berada di kisaran 60 persen. Ini merupakan hasil survei yang paling akhir dirilis 4 lembaga survey. Lalu apa maknanya? Direktur Eksekutif M. Qodari menyatakan kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi seharusnya bisa lebih tinggi. Ia membandingkan dengan survei kepuasan publik pemerintahan SBY jelang pilpres dahulu yang dapat mencapai kisaran 80 persen.

Jokowi resmi sudah mendeklarasikan diri maju di Pilpres 2019. Bagaimana dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto? Apa yang membuat Prabowo belum mendeklarasikan diri maju di Pilpres 2019? Lalu siapa kira-kira tokoh-tokoh yang mungkin berkontestasi selain Jokowi dan Prabowo, mengingat elektabilitas keduanya masih jadi yang teratas dalam survey-survei sejauh ini.

Menyambung pembicaraan bursa cawapres, menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari sejauh ini ada sejumlah nama yang masuk radar survei cawapres Pemilu 2019 seperti Anies Baswedan, Agus Yudhoyono, Gatot Nurmantyo, dan Ridwan Kamil.